Sunday, August 17, 2008

Emas Olimpiade Kado HUT RI

Bangga sekali rasanya menyaksikan kemenangan ganda purtra Indonesia saat merebut medali emas Olimpiade. Sebuah pertandingan yang sangat seru sekali. apalagi lawan yang mereka hadapi adalah Fu haifgeng yang terkenal sebagai pemegang rekor smesh tercepat. Hendra dan Kido juga mengawali langkah dengan menyingkirkan ganda Malaysia yang selama ini tidak pernah mereka kalahkan. Luar Biasa!

Hanya satu yang bisa kita sampaikan, Terimakasih, Kido Hendra! Kami bangga karenamu...

Hari ini negara kita marayakan kemerdekaan ke-63, namun apakah kita merasa benar-benar Merdeka? untuk yang satu ini, jawabannya belum! Wong untuk masuk SD saja tetangga saya banyak yang anaknya gak bisa masuk sekolah karena banyak syarat dan bayaran...

Mudah2an suatu saat nanti, kita dapat menyaksikan Indonesia yang benar-benar Merdeka, bukan yang setengah merdeka....

Selamat juga buat SBY yang hari ini menimang cucu pertamanya....

17 Agustus memang membawa berkah buat semua...

Tuesday, June 10, 2008

Indonesia adalah Negara Asia Pertama di Piala Dunia?

Diakui atau tidak, Indonesia adalah negara Asia pertama yang berlaga di ajang Piala Dunia, tepatnya Piala Dunia 1938 di Prancis.

Meski saat itu belum merdeka, Indonesia mengusung nama Nederlandsche Indiesche atau Netherland East Indies atau Hindia Belanda.

Panasnya keadaan di Eropa dan sulitnya transportasi ke Prancis secara tak langsung memberikan keuntungan. Jepang menolak hadir dan memberikan kesempatan bagi Hindia Belanda untuk tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12. Lalu Amerika Serikat yang jadi lawan berikutnya menyerah tanpa bertanding.

Jadilah anak-anak Melayu ini melenggang ke Prancis.
Pengiriman kesebelasan Hindia Belanda bukannya tanpa hambatan. NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie) atau organisasi sepak bola Belanda di Jakarta bersitegang dengan PSSI yang telah berdiri April 1930. PSSI yang diketuai Soeratin Sosrosoegondo, insinyur lulusan Jerman yang lama tinggal di Eropa, ingin pemain mereka yang dikirimkan.

Namun, akhirnya kesebelasan dikirimkan tanpa mengikutsertakan pemain PSSI dan menggunakan bendera NIVU yang diakui FIFA.

Ditangani pelatih Johannes Mastenbroek, pemain kesebelasan Hindia Belanda adalah mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda.

Tercatat nama Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermandji, Anwar Sutan, dan kiri luar Nawir yang juga bertindak sebagai kapten.

Pada babak penyisihan, Hindia Belanda langsung menghadapi tim tangguh, Hungaria, yang kemudian meraih posisi runner-up.

Tak banyak informasi yang didapatkan mengenai pertandingan di Stadion Velodrome Municipale, Reims, 5 Juni 1938, tersebut. Pada pertandingan yang disaksikan 9.000 penonton itu, Hindia Belanda tak mampu berbuat banyak dan terpaksa pulang lebih cepat setelah digilas 6-0.

Meski belum menggunakan bendera Merah-Putih, inilah satu-satunya penampilan tim Melayu di Piala Dunia, hingga sekarang! (Koran Tempo, 11 Mei 2006)

Belanda Hancurkan Juara Dunia Italia 3-0

Tuh kan? Belanda membuktikan diri lebih jago dibanding Juara Dunia Italia....Skornya 3-0 pulak... Kita tunggu Belanda di final ya?

Monday, June 09, 2008

Saatnya Menilai Televisi dengan "Rating" Kualitas

Saatnya Menilai Televisi dengan "Rating" Kualitas
KOMPAS, Minggu, 8 Juni 2008 | 00:46 WIB

DAHONO FITRIANTO & SUSI IVVATY

Prihatin terhadap sistem ”rating” kuantitatif sebagai patokan menilai program televisi, beberapa organisasi independen membuat metode survei lain, yakni menilai kualitas acara televisi. Hasil survei menunjukkan, program yang paling banyak ditonton bukanlah yang bermutu terbaik.

Survei bertitel Rating Publik ”Menuju Televisi yang Ramah Keluarga” ini dilakukan Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi (SET) didukung Yayasan TIFA, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), The Habibie Center, dan London School of Public Relations.

Koordinator survei Agus Sudibyo menegaskan, meski sama- sama menggunakan kata rating, metode ini bukan dimaksudkan untuk menandingi sistem yang diselenggarakan lembaga riset AGB Nielsen (yang menjadi patokan stasiun TV selama ini). ”Metodenya jauh berbeda,” ungkap Agus.

Survei rating publik ini dilakukan dengan menyebar kuesioner dan rekaman kepada 220 responden, masing-masing 20 responden di 11 kota, yakni Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Denpasar, Batam, Pontianak, dan Palembang. Responden dipilih menggunakan metode sampel kuota dan dari kalangan pemerhati televisi di setiap kota.

”Respondennya harus orang- orang yang paham dan bisa menilai secara kritis program acara televisi. Jadi, tidak bisa dipilih secara acak dari para kalangan masyarakat umum. Riset ini tidak berpretensi menggambarkan penilaian seluruh penonton televisi,” papar Agus.

Untuk mencari responden yang sesuai dengan kriteria itu, mereka bekerja sama dengan lembaga independen pemerhati televisi di setiap kota, yakni Yayasan Kippas (Medan), LKi&KP (Batam), LPS-AIR (Pontianak), LKM (Surabaya), Silabika dan Pustaka Melayu (Palembang), YPMA KIDIA (Jakarta), LeSPI (Semarang), Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad (Bandung), Pusat Studi Audience Program Studi Ilmu Komunikasi STPMD ”APMD” (Yogyakarta), Elsim (Makassar), dan IJTI Provinsi Bali (Denpasar).

Selain harus menjawab kuesioner, setiap responden juga harus menonton rekaman 15 acara TV, masing-masing lima acara untuk tiga kategori utama acara TV, yakni hiburan, bincang-bincang (talkshow), dan berita reguler. ”Kami kirimi setiap responden rekaman itu agar mereka bisa benar-benar menelaah isinya. Lima acara yang dipilih adalah acara yang memiliki rating tertinggi berdasar riset AGB Nielsen,” kata Agus.

Setelah mengolah data dari 191 responden yang mengembalikan kuesioner, terlihat bahwa mayoritas responden (41,9 persen) menilai program televisi di Indonesia secara umum masuk dalam kategori biasa-biasa saja. Hanya 27,2 persen yang berpendapat acara TV sudah baik, sementara 24,6 persen malah memandang isi TV kita masuk dalam kategori buruk.

Riset ini menerapkan enam kriteria penilaian kualitatif sebuah acara TV bisa dikatakan bermutu tinggi, yakni bisa menambah pengetahuan, bersifat pengawasan atau memberi peringatan, membangkitkan empati sosial, meningkatkan daya kritis, memberi model perilaku yang baik, dan menghibur.

”Kick Andy” terbaik

Berdasarkan jawaban dari responden, program Kick Andy yang dipandu host Andy Noya dinilai sebagai program terbaik dari semua program yang ada di televisi. Sebanyak 47,1 persen responden memilih program tersebut. Bandingkan dengan program ber-rating tertinggi versi AGB Nielsen, yakni sinetron Azizah.

Kick Andy juga dinilai sebagai program talkshow terbaik versi riset ini, sedangkan menurut AGB Nielsen, program Empat Mata adalah yang ber-rating tinggi. Namun, bukan berarti Empat Mata juga tidak disukai. Sebab, riset ini menunjukkan bahwa Empat Mata menempati urutan kelima setelah Kick Andy, Today’s Dialogue, Oprah Winfrey, dan Dorce Show.

Andy Noya mendukung riset mengenai rating publik ini karena memberi alternatif lain soal rating. Selama ini, AGB Nielsen menjadi semacam ”Tuhan”-nya untuk televisi dan periklanan sehingga seolah-olah menjadi satu-satunya kebenaran.

Kekuatan Kick Andy, menurut Andy, adalah pada tema dan content atau isi. Presenter hanyalah unsur kecil yang justru menjadi kelemahan. Itu karena Andy merasa tidak menarik di depan kamera, tidak ganteng, bergaya kaku, dan berambut kribo pula. ”Jadi saya tertolong oleh tim yang solid. Kick Andy ini kental dengan unsur jurnalisme. Kami mengandalkan jaringan yang dimiliki Metro TV, yakni reporter yang tersebar di banyak daerah. Merekalah yang banyak memberi informasi,” paparnya.

Kekuatan lain Kick Andy adalah, program ini mengasah kepekaan sosial dan selalu menyampaikan pesan moral. Misalnya soal tema kelamin ganda, kaki palsu, atau guruku pemulung. Topik yang diangkat berimbas sangat luas. Soal kaki palsu, misalnya, ternyata banyak sekali orang yang membutuhkan. Karena itu, muncullah gagasan untuk membuat kegiatan ”1.000 Kaki Gratis Kick Andy” dan sudah terkumpul dana Rp 1 miliar dari sponsor.

”Kelemahan Kick Andy selain pada host-nya juga unsur hiburannya. Kick Andy juga tidak interaktif, tidak bisa berdialog dengan penonton di rumah karena direkam,” terang Andy.

Ada beberapa program yang dinilai bagus oleh responden survei ini, dan juga di rating tinggi oleh AGB Nielsen. Namun, ada pula yang sangat jauh panggang dari api. Bagaimanapun, patokan ini patut menjadi alternatif.

Saturday, June 07, 2008

Euro, Jerman vs Belanda di Final

Final Euro, Jerman vs Belanda…

Euro sudah di depan mata, siapa yang juara? Apakah kembali menghasilkan kejutan seperti saat Yunani mencengangkan publik dunia?

Tahun ini banyak yang menjagokan Portugal, Jerman dan Italia. Kalau aku sendiri pilih Belanda. Finalnya akan menghadirkan Jerman lawan Belanda. Dan Belanda yang juara.

Portugal? Christiano Ronaldo terlalu sombong dan terlalu banyak masalahnya. Di MU bisalah dia segalanya, namun di timnas Portugal belum tentu kehebatannya keluar. Di MU dia punya kompatriot yang jagoan, di Timnas belum tentu padu dengan rekan-rekannya. Jadi, Portugal jangan berharap banyak lah dulu. Apalagi Ronaldo juga sangat sering seolah sombong dengan kehebatannya. Masih ingat kan waktu dia ke Aceh?

Italia, Juara Dunia ini turun dengan keyakinan penuh. Sayangnya terganjal kasus cideranya sang kapten Fabio Cannavaro. Dan setengah nafas Italia pun terbang. Antonio Cassano semula ingin mengulang sejarah pemain Italia yang mengkilap sebagai pemain yang semula tidak diharapkan, seperti Paulo Rossi dan beberapa lainnya. Tapi, kayaknya Cassano belum sehebat itu lah. Saingan Italia di Grup, Belanda dan Perancis bahkan bisa membuat juara dunia ini harus pulang lebih dulu.

Perancis, sepeninggal Zinedine Zidane, Perancis kehilangan roh. Frank Ribery yang muslim, semula diharapkan menjadi penerus tongkat estafet. Namun sampai saat ini, Ribery belum menunjukkan kelasnya yang sesungguhnya. Jika Ribery dalam kondisi fit, didukung Benzema dan Samir Nasri, bukan tak mungkin Perancis kembali terbang tinggi. Mereka juga mesti hati-hati agar tidak tergelincir oleh kuda hitam Rumania di pemanasan grup.

Jerman. Tim yang paling banyak dijagokan masuk final adalah Jerman. Wajar saja, tim diesel ini dikenal panasnya lambat dan jago turnamen. Kekuatannya merata, apalagi jika Ballack dalam kondisi on fire, habislah sudah lawan mana saja. Sayangnya, Jerman terlalu mengandalkan Lehhman di bawah mistar. Lehman sendiri jarang turun di kompetisi antarklub dan menjadi cadangan di Arsenal setelah Almunia menunjukkan taringnya. Para striker Jerman juga nampaknya tidak setajam dulu lagi. Miroslav Klose sudah terlalu lamban dan sudah dimengerti cara mainnya.

Tim semenjana yang patut diwaspadai sebenarnya adalah Kroasia, Polandia dan Ceko. Sayangnya Kroasia mesti kehilangan Eduardo da Silva yang cidera di Arsenal. Pemain-pemain asuhan Bilic ini tentu ingin menunjukkan dan memberikan kado terbaik bagi da Silva. Apalagi mereka sudah lama tidak melihat prestasi pasca era Boban, Suker dan kawan-kawan. Hal yang sama juga pada Ceko. Cideranya Rosicky membuat tim ini kekurangan amunisi. Untung ada Petr Chech di bawah mistar yang memberi setengah kekuatan tim. Darah muda dan lokomotif tak kenal lelah ala Cekko akan membuat lawan mereka kalang kabut.

Bagaimana dengan juara bertahan Yunani? Peluang mereka lolos dari penyisihan grup masih terbuka. Komposisi yang merata tanpa pemain bintang membuat tim ini hebat dan solid. Sebuah keharusan yang dimiliki tim, yakni kebersamaan ada pada mereka. Modal itu sangat berharga dan bisa memberi kejutan lagi pada tim lawan. Sesuatu hal yang juga dialami Polandia, negeri yang untuk pertama kalinya lolos ke final Euro walau di Piala Dunia sudah sering lolos. Polandia lolos dengan prestasi juara grup mengungguli Belanda, jika mereka konsisten seperti penampilan di penyisihan, bukan tak mungkin Polandia akan memberi warna baru.

Rusia, sejak ditangani pelatih bertangan dingin, tim ini tambah hebat. Menangnya Zenit di Piala UEFA tentu menambah mental anak-anak Rusia. Apalagi mereka lolos dengan sangat dramatis setelah sebelumnya dinyatakan 99 persen akan gagal jika Inggris bisa seri atau menang pada pertandingan terakhir lawan Kroasia. Sayangnya pada menit akhir pertandingan, Kroasia menambah gol ke gawang Inggris dan membuat negeri bola itu harus gigit jari. Rusia yang sebelumnya sudah pasrah menerima mukjizat dan lolos. Mereka tentu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekali datang harus menang sekalian. Gaya permainan anak-anak Rusia sekarang dinamis sekali. Tapi untuk menang juara Euro, nanti dulu…. Buat Swiss, Austria, Turki dan tim lain, jangan anggap remeh juga. Peristiwa seperti kisah dinamit Denmark yang membuat sejarah sebagai juara dari tim yang tidak diperhitungkan bisa terulang….

Lalu siapa yang juara? Belanda ajalah… Karena sudah lama nih gak melihat Belanda sehebat sekarang sejak zamannya Gullit. Kalau Belanda yang menang, van Basten akan mencetak sejarah baru sebagai pemain dan pelatih yang sukses juara Euro. Kalau Belanda yang juara, kita yang di Indonesia bisa dong sedikit bangga dan sombong dengan mengatakan ada darah-darah Indonesia di timnas Belanda. Giovanni van Broncost dan Johny Heitinga adalah anak-anak perantau asal Indonesia yang merantau (lari atau dibuang) ke Belanda.

Selamat menonton ya….

Wednesday, May 28, 2008

Berbagi Cerita di Ciputat...

Cuti yang kuambil selama 2 minggu berlalu sudah. Tak ada kemana-mana, hanya di rumah saja. Ditambah sakit demam yang membuat kami berempat sama-sama berobat ke rumahsakit. Perawat di RS Sari Asih Ciledug sampai komentar, "sakitnya kompak ya, Pak".

Mengisi waktu, kami main ke Ciputat. Rumah Uci atau Tante yang masih sekampung. Karena sebaya, aku panggil Kakak saja dia. Di kampung kami gak terlalu kenal, karena yang sebaya denganku adalah adiknya yang bungsu. Dia sendiri sudah merantau sejak aku masih SD di kampung. Tapi satu kampung dan senasib di rantau menjadikan kami sangat dekat.

Pas hari pertama kenaikan BBM, kami parkirkan motor di Plaza CIledug (ini dipilih karena parkirnya masih Rp 1000 tanpa limit, lebih murah dibanding parkir di Carrefour CBD Ciledug yang parkirnya pakai hitungan jam). Lalu lanjutkan naik angkot ke Lebak Bulus. Sopir rupanya sudah naikkan tarif tanpa ba-bi-bu, dari 5 ribu jadi 6 ribu. Tinggallah penumpang yang mengumpat dalam hati.

Dari Lebak Bulus, ganti angkot ke Pasar Ciputat dan disambung lagi yang ke arah Parung. Rumah Kak Ami ini ada di sekitar kelurahan Cipayung, di pinggir jalan besar. Anaknya dua, Hafiz dan Wada. Seumuran pula dengan anakku, jadi klop lah sudah. Anak-anak puas-puasin main, kami pun puas-puasin ngobrol sana sini.

Dulunya mereka mengelola bengkel yang cukup besar disana, dan mereka diberi izin tinggal di bengkel itu. Sejak banyaknya bengkel yang pakai sistim komputer, bengkel mereka bangkrut. Untunglah pemilik bengkel masih mengizinkan mereka tinggal disana. Sudah sejak beberapa bulan lalu Kak Ami ini pengen pulang kampung aja. Karena sudah gak betah di Jakarta. Suaminya yang mekanik, banting stir belajar Sipil dan mulai usaha pembangunan menara GSM di daerah Bandung. Saat kami ke rumahnya, suami Kak Amis kebetulan sedang pulang dan ada di rumah, itu baru kali pertama kami bertemu karena biasanya ia ada di luar kota.

Kak Ami ini sebulan lalu pernah nekat ke rumahnya Aburizal Bakrie. Memang Ical itu masih ada hubungan saudara jauh dengannya, dengan kami juga tentunya. Neneknya Ical itu berasal dari sebuah desa Kampung Pakantan yang sekarang sudah tinggal hutan.

Almarhum ayah Kak Ami ini pernah berpesan agar dia sesekali datang ke rumahnya Ical dan menjalin silaturahmi. Karena sedang HABIS PIKIR, dia pun nekat datang kesana. Hampir seminggu berturut-turut dia menguntit Ical, dari Kantor hingga rumah. Namun yang didapat hanya kekecewaan. Dari awal aku udah beri gambaran bagaimana susahnya dan tak akan ada tanggapan. Namun Kak Ami yang tamatan D3 AMIK PAdang ini nekat juga, dia berharap Ical akan memberi sedikit peluang kerja padanya, minimal di perkebunan sawit Bakrie yang ada 2 di Pasaman Barat.

Ajudan dan Satpam ICal tak pernah memberi izin, hingga Kak Amis pulang dengan satu keyakinan baru bahwa ternyata benar orang kaya tak bisa berfamili... Sejak saat itu dia menghapus keinginannya kerja di kantoran dan pulang kampung. Dia pun banting stir buka warung makanan sederhana di bekas bengkelnya. Dia jual Gado-gado dan nasi Padang. Posisinya di bekas bengkel yang dekat dari kolam renang Mbok Berek Ciputat.

Kak Ami punya dua anak, Hafoz dan Wada. Uniknya si Hafiz ini gak mau lagi dipanggil Hafiz. Sekarang ia minta ganti nama jadi IQBAL aja. Alasannya ada tetangga mereka yang namanya Hafiz juga tapi anaknya nakal sekali. Jadi ia gak mau dianggap nakal kayak si Hafiz tetangga mereka itu.

Bercerita memang mengasyikkan. Sampai tak terasa hari sudah sore, dan kami bersiap untuk pulang ke Ciledug. Anak-anak yang sedari pagi main-main di halaman yang bekas bengkel, awalnya gak mau pulang. Baron sampai nangis-nangis gak mau pulang.

nb: berhubung komputernya gak bisa upload foto di blog ini, maka fotonya bisa dilihat di album foto ya...

Wednesday, May 21, 2008

Ketika yang Menolong Hanya Selembar Kartu Sakti











Hari baru pukul 10 saat aku bergegas naik ke lantai dua Plaza Cileduk. Hari itu aku harus ada uang untuk keperluan mendesak. Ya, sudah beberapa kali Bang Ryan ini yang menyelamatkan kami. Sayang sekali, kali ini aku harus kecewa, toko Bang Ryan yang tersembunyi di sudut plaza yang sesak.

Sejak ke Jakarta, Bang Ryan cukup sering membantu keuangan kami kala mendesak. Bang Ryan bukan family, ia hanya seorang pedagang yang menerima tarik tunai kartu kredit. Aku pun tau dari iklan keciknya di koran. Tarik tunai di tempat dia ini seolah kita membeli barang elektronik, namun kita diberi cash. Ia dapat untung dari biaya sekitar 4 persen. Biasanya ia akan nanya mau bersih apa kotor?

Kalau bersih artinya kalau kita minjam 1 juta, maka kita terima satu juta bersih namun di kwitansi tertulis rp 1.035.000, yang 35 ribu buat dia. Kalau kita mau terima kotor, berarti di kwitansi tertulis pas rp 1 juta namun kita nerimanya rp 965.000 atau 1 juta kurang bagian dia.

Pada kawan-kawan sering aku bilang, bahwa kalau hidup di Jakarta ada dua syarat utama, Pertama, HARUS KAYA dan kedua HARUS SABAR.

Kaya, karena semua serba mahal dan butuh biaya. Sejak pindah ke Jakarta aku harus mengeluarkan banyak biaya yang sebelumnya gak pernah ada budgetnya. Sewa rumahlah dan sebagainya.

Sabar, karena kita mesti berhadapan dengan macet, banjir, lalu lintas yang amburadul dan kelauan orang yang bermacam-macam. Aku sendiri kayaknya udah bisa sedikit sabar, sayangnya belum KAYA-KAYA.

Alhasil, setiap bulan selalu MANTAB alias MAKAN TABUNGAN. Parahnya, sudah makan tabungan, minus pula dan mesti ada subsidi baru. Dan jalan terakhir adalah TARIK TUNAI dari KARTU KREDIT yang akan dilunasi secepat mungkin pas gajian.

Dan hiduppun macam lagu Bang Rhoma Irama, Gali Lobang Tutup Lobang....

Aku sudah punya kartu kredit sejak 5 taun lalu. Dulu memang gunanya tak sering ada. Hanya buat kondisi mendesak aja. Namun dulu tetap ada ada godaan buat beli barang. Misalnya elektronik dan HP. Alhasil, bayarnya susah.... Akibatnya pernah aku hanya sanggup bayar bunga saja sementara hutangnya gak berkurang sama sekali.... Untung aku cepat sadar dan tutup semua hutang, kalaun tidak, entah bagaimana leher terjerat kartu BIADAB itu...

Sejak ke Jakarta, tiba-tiba hubungan kami dengan Kartu Kredit itu makin mesra aja. Maklum keperluan uang makin banyak sementara teman bagi masalah atau teman pinjam duit gak ada... Saudara juga jauh semua. Alhasil, kartu Citibank dan BNI yang aku punya pun menjadi Saudara Terkandung....

Suatu malam, anak kami Baron sakit. Muntah dan mencret.... Seharian gak sembuh... Obat tak mempan... Daun jambu yang direbus sudah diminumkan berkali-kali... Mencretnya makin parah, air besarnya malah sudah air semua... Sementara uang gak ada... Sementara kartu askes yang kami punya hanya bisa digunakan dengan pakai uang sendiri dulu...

Akhirnya kami nekat membawanya ke rumahsakit. Benar saja, di UGD ia muntah ke baju dokternya. Kontan saja sang dokter langsung perintahkan opname. Saat mendaftar di loket, aku pun diwajibkan menyetor deposit satu juta lebih... Pusing, mau nyari uang kemana?

Untung mereka cepat memberitahu bahwa bisa pakai kartu kredit... Maka dengan gagahnya, sang kartu membantu kami saat itu. Sejak saat itu, kami sering berkelakar bahwa satu-satunya family di kota besar ini hanya MBak Siti.... Maksudnya Citibank...

Kejadian berlanjut, Baron kembali sakit diare. Semua gara-gara air yang kotor... Kami merasa tertipu pemilik rumah. Kami tawarkan perdalam sumur bor dengan biaya setengah-setengah dia tetap gak gubris. Apa boleh buat, kami harus pindah meski kontrak rumah masih sisa 7 bulan... Sekali lagi, Mbak Siti (Citibank) menjadi dewa penyelamat, pada saat yang pas, aku ditawari Personal Loan sebagai fasilitas pengguna kartu kredit Citibank... dan akhirnya kami bisa pindah dan hidup sedikit lebih sehat...

Persoalan ternyata belum selesai... Beberapa kali kami mesti pontang panting mengatur keuangan....Hingga akhirnya tak ada jalan keluar selain minjam... Dan jalan satu-satunya hanya TARIK TUNAI lewat merchant, bukan lewat ATM. Sebab, kalau tarik tunai lewat ATM bunganya besar sekali. Sementara kalau tarik tunai dari toko bunganya sesuai dengan bunga belanja.

Seperti Bang Ryan, dia buka tokonya adalah toko elektronik merk tertentu, sekarang di tokonya juga jual handphone. Namun jualan sebenarnya adalah Alat atau mesin pembayaran kartu kredit itu... Dulu pas aku pertama kesana, Bang Ryan nampaknya juga baru bisnis itu, sebab ia saat itu juga masih kaku dan sempat salah ngetik jumlah uang segala.

Kembali ke cerita tadi, setelah siangnya melihat toko Bang Ryan tutup, sorenya aku beranikan lagi datang kesana. Bak menemukan harta karun, aku senang sekali melihat toko kecil itu buka. Melihat aku, Bang Ryan udah langsung paham. Ia pun langsung basa-basi bahwa memang baru buka karena harus membawa anak-anaknya rekreasi karena hari libur sekolah...

Transaksi pun lancar, Segepok uang berpindah ke dalam dompetku... Mudah-mudahan segera ada ganti buat membayarnya, karena akan susah kalau tak dibayar segera...

Sebenarnya toko seperti Bang Ryan ini banyak sekali. Sebelum dengan bang Ryan, aku juga pernah tarik tunai di toko travel dan toko emas. Biasanya mereka memang liat-liat dulu orangnya. Malah awalnya, aku mesti ditemani teman yang dari Bank, baru mereka mau melayani.

Di Medan, di toko emas yang ada tarik tunainya, aku diberi kartu agar setiap tarik tinggal memperlihatkan kartu itu saja sebagai identitas agar mereka segera tahu kalau kita udah pernah kesitu...

Berutang memang bukan pilihan, namun pada saat-saat tertentu berutang menjadi keharusan....

Kalau bisa memilih, aku ingin rasanya menggunting dua kartu kredit yang ada di dompet. Namun mengingat kondisi, rasanya masih butuh pertolongan mereka suatu saat nanti...

Beruntunglah orang-orang yang berkecukupan sehingga tak harus pusing pikir macam-macam soal keuangan rumahtangga.

Banyak orang yang takut pakai kartu kredit. Dan memang jangan sembarangan pegang kartu kredit, walau sakti dan berjasa pada kondisi darurat, kalau tak mampu menahan selera, kita bisa dijeratnya... Namun kalau mampu mengendalikan, kartu itu memang menjadi kartu sakti yang berjasa sekali.

Tipsnya sedikit saja, jangan pakai buat konsumsi, jangan pakai buat keperluan yang tidak mendesak. kalau pun harus tarik tunai, tarilah dari toko, jangan sesekali tarik tunai dari ATM. Dan terakhir, menabunglah agar di akhir bulan masih ada yang akan dikuras....